Hari: 31 Oktober 2023

MenKopUKM: Nilai Ekspor Produk Kerajinan Indonesia US$949 juta

MenKopUKM: Nilai Ekspor Produk Kerajinan Indonesia US$949 juta

Nilai Ekspor Produk Kerajinan Indonesia
Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki mengatakan sepanjang 2022, nilai ekspor produk kerajinan Indonesia mencapai US$949 juta atau setara Rp14.685,1 triliun. Angka ini naik dibandingkan ekspor tahun 2021 yang sebesar US$916 juta (Rp14.174,4 triliun).

“Walaupun sebenarnya untuk ekspor masih sulit. Keluar (ekspor) susah, sementara kalau ke dalam (impor) gampang sekali. Tak heran kita dibanjiri produk impor ilegal. Hal ini yang sedang kami bereskan,” ucap MenKopUKM Teten dalam sambutan Pameran Inacraft, Jumat (29/9).

Dikatakan Teten, pangsa pasar kerajinan Indonesia mencapai sekitar 2,5% dari pasar dunia, dan masih bisa sicbo online uang asli ditingkatkan. Terutama karena didukung oleh masyarakat Indonesia yang memiliki kreativitas tinggi, talenta inovatif, dan didukung oleh budaya yang sangat beragam.

Tak hanya itu, Indonesia menurutnya memiliki SDA (Sumber Daya Alam) hutan seluas 68 juta hektare (ha). Bahkan menjadi produsen 85% rotan dunia, dan nomor tiga produsen bambu terbesar dunia setelah China dan India. Tercatat, permintaan kriya di pasar global terus meningkat dalam tiga tahun rata-rata naik sebesar 9%. Hal tersebut merupakan potensi pasar yang besar.

“Handicraft keunggulan domestik punya budaya dan menjadi sumber inspirasi. Sehingga hal yang perlu dibereskan baik dari sisi pemasaran maupun informasi perdagangan, jangan sampai produk luar gampang masuk sementara produk Indonesia keluar (ekspor) susahnya bukan main,” kata MenKopUKM.

Teten mencontohkan, saat Indonesia akan mengekspor pisang dari Lampung, para pelaku UMKM yang tergabung dalam koperasi harus memenuhi sebanyak 21 sertifikat. Termasuk sertifikat yang mesti diperbarui dalam enam bulan sekali.

“Di Jepang, mereka nggak mau terima produk pisang kita, kalau minimal hanya boleh 3 titik nodanya di kulit pisang. Lebih dari itu mereka nggak mau. Mereka, negara lain saja begitu melindungi produk yang masuk ke negaranya, masa kita nggak,” ucapnya.

Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) sebagai asosiasi, sambung Teten, juga diharapkan turut serta dalam menjaga produk kerajinan tangan dalam negeri tetap tumbuh dan tak tergerus oleh banyaknya produk handicraft dari luar negeri.

“Asephi juga harus ikut patroli. Jika ada kain-kain, benang-benang, maupun produk kerajinan yang banyak dari impor, nanti laporkan kepada kami. Karena tidak bisa kami sendiri membereskan ini, harus ada dukungan dan peran aktif dari asosiasi, masyarakat dan stakeholder lainnya,” sebutnya.

Dia menegaskan, dalam memasuki pasar internasional, UMKM di sektor kriya dan handicraft juga harus mampu meningkatkan kualitas desain produk yang selalu baru agar diminati oleh pasar global, serta memiliki kuantitas dan kualitas sesuai standar dan permintaan internasional.

Untuk itu kata Teten, pendekatan melalui agregator memiliki peran penting dalam mendongrak bisnis UMKM agar naik kelas. Termasuk dalam mendorong akses pembiayaan, juga menghubungkan UMKM ke pasar yang lebih luas, bahkan hingga go global.

Nilai Ekspor Produk Kerajinan Indonesia

Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) juga mengembangkan program agregator melalui factory sharing hingga pembiayaan KUR Klaster yang melibatkan agregator untuk mendampingi UMKM. “Saya harap ini mampu memudahkan UMKM dari sisi pembiayaan, proses produksi, hingga akses pasar,” ujar dia.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum BPP Asephi, Muchsin Ridjan menyampaikan, Asephi mendukung langkah MenKopUKM Teten Masduki untuk menutup praktik social commerce yang berpotensi merugikan keberlangsungan bisnis UMKM Indonesia.

“Asephi sebagai wadah perajin di seluruh Indonesia, telah membentuk tim khusus untuk mengawal kebijakan waspada impor ilegal terhadap produk UMKM, bagi kebangkitan UMKM Tanah Air. Asephi bersama MenkopUKM,” katanya.

Sebagai informasi, Pameran Inacraft kembali hadir untuk kedua kalinya pada tahun ini bertajuk Inacraft on October 2023. Sebagai salah satu pameran produk kerajinan terbesar di Asia Tenggara, pameran ini akan diselenggarakan pada 4-8 Oktober 2023 di Jakarta Convention Center (JCC).

Inacraft on October 2023 dikuti oleh 772 booth yang terdiri dari para anggota Asephi, dua peserta binaan BUMN, 18 peserta binaan Dinas/Dekranasda, peserta dari luar negeri dari negara-negara sahabat, dan visitor/tamu baik nasional maupun internasional.

“Pameran Inacraft menargetkan dapat dihadiri 100 ribu pengunjung dengan target transaksi retail sebesar Rp50 miliar dengan kontrak dagang diharapkan mencapai US$1 juta atau setara Rp15,47 miliar,” ucap Muchsin.

Inacraft kali ini memberikan kesempatan dan peluang kepada para pelaku usaha muda di seluruh Indonesia sebagai wadah untuk memamerkan hasil karya anak bangsa ke kancah internasional. Serta menambah eksistensi pameran Inacraft sebagai salah satu pameran kerajinan tangan terpopuler dan terlengkap di Indonesia yang terus menyesuaikan dengan tren saat ini.

“Inacraft terus mengembangkan potensinya sebagai benchmark produk kerajinan nasional dengan cara menggandeng perajin muda, youth and millenium artisans, dan peserta luar negeri dari negara-negara sahabat sebagai wujud kebangkitan setelah pandemi dan kekuatan UKM Indonesia menjadi bagian dari worldpreneur citizen,” katanya.

Boneka Kayu Bersentuhan Khas Nusantara

Citramata; Boneka Kayu Bersentuhan Khas Nusantara

Boneka Kayu Bersentuhan Khas Nusantara
Boneka Kayu Bersentuhan – Mengunjungi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tak lengkap rasanya apabila pulang dengan tangan kosong. Hampir semua orang membawa oleh-oleh selepas mengunjungi kota yang berpredikat ’istimewa’ itu. Pakaian, makanan, aksesoris, gantungan kunci, hingga makanan, dan lain sebagainya adalah hal lumrah yang dibawa pelancong dari sana.

Biasanya, orang menjadikan bakpia, gudeg, baju lurik, dan celana panjang hickoryridgegrill.com batik sepulang dari Kota Pelajar. Namun, Hasan Agus Wiratomo (32) mencoba menciptakan opsi buah tangan lain yang bisa dibeli di Yogyakarta.

Mengandalkan skill yang dipelajari semasa kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Hasan menciptakan boneka dari kayu berbentuk bulat. Boneka itu dia lukis dengan motif custom sesuai permintaan konsumen. Ya, mulanya Hasan menjalankan bisnis boneka itu sesuai dengan orderan dari pelanggan, bukan menyediakan produk yang ready stock.

Hasan sendiri fokus menekuni teknik perpatungan saat berkuliah di ISI. Dia mengajak rekannya yang fokus mempelajari seni lukis untuk melukis di media boneka kayu. Akhirnya, berdirilah Modus pada tahun 2016.

”Kami diskusi untuk bikin usaha apa yang pas dikerjakan berdua. Setelah cari-cari di Pinterest, boneka Jepang yang dari kayu lalu dilukis. Wah, ini bisa dicontoh,” ujar Hasan saat berbincang dengan Validnews lewat sambungan telepon, Jumat (22/9).

Pasar yang dia incar pun dari wisuda hingga pernikahan. Beberapa kali, dia menjajakan boneka ciptaannya pada ajang wisuda di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

”Kita jual di UGM, UNY, saat wisuda. Kalau di ISI tidak jualan karena mereka (mahasiswa) yang bikin sendiri souvenir-nya,” candanya.

Modal mendirikan Modus pun tak membuat dompetnya menangis. Kala itu Hasan hanya merogoh Rp50 ribu untuk memulai bisnis. Wajar saja, dia hanya membeli limbah kayu yang masih layak pakai untuk diolah menjadi boneka, lalu dicat dengan peralatan yang sudah dimiliki sebelumnya.

“Cat-nya kita sudah ada modal duluan, sudah punya karena kita melukis juga. Jadi, modalnya skill aja,” tutur dia.

Sayang seribu sayang, Hasan yang tidak pernah menekuni ilmu perbisnisan mendapat kendala yang amat berat, yakni pada faktor pemasaran. Dia mengakui bahwa kedua pendiri Modus ialah ‘orang produksi’, yang notabene hanya fokus pada skill menciptakan produk, bukan menjual produk.

“Kesulitannya lebih ke penjualan dan pemasaran gitu karena keduanya orang produksi,” kata Hasan. Tak sampai kendala pada faktor pemasaran, hadirnya pandemi covid-19 di Indonesia tahun 2020 lalu membuat Hasan dan temannya menyudahi perjalanan Modus, jenama yang baru menapaki langkah di dunia perbuahtanganan Yogyakarta.

Modus sudah usai, tetapi perjalanan bisnis Hasan Agus Wiratomo tak bisa dihentikan oleh pandemi. Pada 2020 itu, dia melakukan rebranding Modus dengan nama Citramata dan produk yang tidak berbeda jauh. Hanya saja kali ini, dia menggunakan motif pakaian adat Indonesia untuk dilukis di boneka kayu.

“Produknya sama, tapi kalau Modus lebih ke custom untuk wisuda, pernikahan, dan belum ada produk yang ready stock,” imbuhnya.

Belajar dari pengalaman, Citramata, dia bangun dengan perlahan tapi pasti. Setahun pertama, Hasan tak meletakkan fokusnya untuk menjual produk dengan brand Citramata, melainkan fokus belajar dengan mengikuti kursus atau webinar soal bisnis.

Dia mengakui bahwa sekalipun sudah menggunakan media sosial sebagai alat promosi dan penjualan sejak 2016, masih banyak yang harus dia kulik lebih jauh agar pemasaran bisa dilakukan secara efektif dan membuahkan hasil nyata.

Hasan yang belum sekalipun mengantongi bekal ilmu berbisnis akhirnya memutuskan untuk ikut kelas-kelas online maupun webinar terkait bisnis. Di situ, dia belajar pemasaran, iklan, hingga karakteristik platform e-commerce.

“Sebelum 2020 hanya modal skill, lalu saat pandemi jadi nganggur dan punya banyak waktu untuk belajar bisnis,” ucap dia.

Tak hanya mengikuti kursus bisnis, dia juga meletakkan fokus pada tahun pertamanya untuk memperkenalkan brand Citramata dengan mengikuti sederet pameran, hingga bergabung pada komunitas-komunitas UMKM.

Adapun total modal yang dirogohnya untuk melakukan rebranding Modus menjadi Citramata ada di kisaran Rp10 juta.

“Kurang lebih setahun saya ikut webinar, pameran, dan komunitas gitu. Saya gak punya ilmu bisnis karena di kampus diajarkan berkarya bukan untuk berbisnis,” ungkap Hasan.